Selasa, 04 Oktober 2016

Celoteh menjelang subuh


_*CARA CEPAT LUNAS HUTANG DAN CARA CEPAT HAJAD BAPAK DAN IBU ALLAH SWT KABUL-KAN DAN CARA NYA SUDAH ADA DI DALAM AL QUR'AN*_

Di zaman sekarang ini banyak orang mengeluh tentang masalah hutang Atau HAJAD HAJAD yang sampai hari ini belum Allah Swt KABUL-KAN. Biasanya karena terjerat dengan tuntutan hidup atau untuk gaya hidup mewah mereka rela berhutang pada pihak perorangan maupun bank tanpa melihat jumlah hutang yang harus dibayar perbulan, sehingga tak jarang di kemudian hari mereka menyesal karena terjerat dengan sistem ribawi.

Lalu bagaimana cara melunasi hutang jika sudah terlilit masalah ini ? ...........

_*Berikut adalah solusi yang telah disebutkan dalam Al Qur'an agar kita bisa membayar hutang secepatnya.*_

Sebagaimana diceritakan oleh Habib Umar bin al-Hafidz, suatu ketika seorang lelaki mendatangi kediaman Syaikh Sya’rawi.

Kepada Syaikh, ia menjelaskan masalahnya, bahwa ia bekerja di tempat yang syubhat (tidak jelas antara halal dan haramnya pekerjaan tersebut).
Pun dengan berbagai produk yang dihasilkan ditempat kerjanya.

Akibat pekerjaannya tersebut, lelaki itu menjalani kehidupan yang sangat jauh dari ketenangan. Rumah tangganya tidak bahagia. Istri dan anaknya banyak makar. Dan berbagai keburukan lainnya.

Setelah mendengarkan penuturan lelaki tersebut, Syaikh Sya’rawi berkata, “Wahai anakku, Keluarlah dari pekerjaanmu.”

“Bagaimana mungkin aku keluar dari pekerjaanku, sementara hutangku kian menumpuk?
Anak, istri dan beberapa orang keluargaku masih membutuhkan nafkah dari diriku.” jawab lelaki tersebut.

“Wahai anakku,” ujar Syaikh Sya’rawi, ketahuilah bahwa dalam Al Qur'an dijelaskan,

ﻭَ ﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَﻪُ ﻣَﺨْﺮَﺟﺎً

_*"'Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah Swt, maka dijadikan baginya jalan keluar (atas semua persoalan).’” (QS. ath-Thalaq [65]: 2)*_

Syaikh Sya’rawi melanjutkan pertanyaannya, “Mana yang lebih dulu disebutkan?

_*Jalan keluar atau Taqwa?”*_

Sangat jelas disebutkan dalam ayat diatas, Bahwa Allah Ta’ala lebih dulu menyebutkan _*kata 'taqwa', baru kemudian 'jalan keluar'.*_

Lalu bagaimana mungkin kita mengharapkan jalan keluar terlebih dahulu sementara diri kita berada dalam kemaksiatan dan berbagai amal keburukan lainnya?

Akhirnya, lelaki itu mau mengikuti nasihat Syaikh Sya’rawi, atas hidayah dari Allah Ta’ala.

Tak lama kemudian, ia keluar dari pekerjaannya dan melamar pekerjaan yang lebih baik, bayarannya pun jauh lebih besar hingga akhirnya bisa untuk menyicil hutangnya.

Beberapa bulan selanjutnya, lelaki itu dipindahkan ke Kuwait, kemudian dipindah ke Arab Saudi, dekat dengan Masjidil Haram dan Ka'bah.

“Dia,” terang Habib Umar bin al-Hafidz, “mau memperbaiki dirinya, kemudian Allah Ta’ala melunasi hutangnya, kehidupannya pun menjadi lebih baik.

_*Maka dari itu, wahai Saudaraku, Bertaqwalah kepada Allah Swt, Niscaya dengan izin Allah Swt jalan keluar akan terbuka.*_

_*Bagaimana mungkin engkau minta jalan keluar sementara dirimu tidak bertaqwa (berada dalam kemaksiatan)?”*_

Mungkin, banyak di antara kita yang pernah membaca ayat diatas bahkan menghafal dengan maknanya.

Namun, ada begitu banyak yang masih tenggelam dalam berbagai persoalan, padahal sudah mengetahui solusinya.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Celoteh pagi


_*Assalamu alaikum wr wb*_

Kisah ini sengaja kutuliskan buat seluruh saudaraku umat muslim maupun sahabatk2ku yang non muslim, agar menjadi pelajaran buat kita semua apa arti hakikat hidup manusia sebenarnya.

Pesan saya ;

- Jangan pernah mengatakan atau menilai seseorang itu sesat atau tidak, karena itu adalah rahasia Allah SWT, jangan pernah mendahului penilaian Allah SWT, karena ilmu pengetahuan kita sangat terbatas. Allah SWT yang mengetahui semua persoalan dan masalah.

- Jangan Pernah merasa diri paling benar, karena kebenaran itu ada tingkatannya....

- Jangan pernah mencampuri tugas manusia lainnya, niscaya kamu akan semakin jauh keimanan kamu disisi Tuhannmu tanpa kamu sadari. Semua itu adalah tipu daya Iblis.

- Manusia yang selalu mendahului perkataan Allah atau selalu memvonis manusia lainnya adalah sesat dan sebagai penghuni neraka, maka sesungguhnya kelak dialah yang di tempatkan Allah SWT di dasar neraka.

Simaklah kisah nyata berikut ini;

Diriwayatkan dari abu Hurairah Rodhiallahu ‘anhu bahwa

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

"Pada zaman Bani Israil dahulu, hidup dua orang laki-laki yang berbeda karakternya. Yang satu suka berbuat dosa dan yang lainnya rajin beribadah. Setiap kali orang yang ahli ibadah ini melihat temannya berbuat dosa, dia menyarankan untuk berhenti dari perbuatan dosanya.

Suatu kali orang yang ahli ibadah berkata lagi, “Berhentilah dari berbuat dosa.”

Dia menjawab, “Jangan pedulikan aku, terserah Allah Swt akan memperlakukan aku bagaimana.

Memangnya engkau diutus Allah Swt untuk mengawasi apa yang aku lakukan.”
Laki-laki ahli ibadah itu menimpali, “Demi Allah, dosamu tidak akan diampuni olehNya atau kamu tidak mungkin dimasukkan ke dalam surga Allah."

Kemudian Allah Swt mencabut nyawa kedua orang itu dan mengumpulkan keduanya di hadapan Allah Rabbul ‘Alamin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada lelaki ahli ibadah, “Apakah kamu lebih mengetahui daripada Aku? Ataukah kamu dapat merubah apa yang telah berada dalam kekuasaan tanganKu.”

Kemudian kepada ahli maksiat Allah Swt berfirman, “Masuklah kamu ke dalam surga berkat rahmatKu.”

Sementara ahli ibadah dikatakan, “Masukkan orang ini ke neraka.”

Dari kisah diatas kita dapat mengambil pelajaran untuk tidak menjadi seseorang yang memastikan orang, kelompok atau golongan lain sebagai penghuni neraka atau surga karena seseorang yang melakukannya berarti telah mengklaim dirinya memiliki sifat ketuhanan. ( Sumber : Sittuna qishshah rawaha an-Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam wash shahabah al-kiram)

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

"Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui, tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih mengetahui, tentang orang-orang yang mendapat petunjuk." – (QS.6:117)

*SELAMAT SENYUM*��������